Arsip Kategori: Rekaman Pengajian

Penutup Pengajian MTGA, Sabtu 29 Juli 2017

tafsir 29-07-2017

salam kufi-01

Hari Sabtu, Tanggal 29 Juli 2017, Pengajian Baca Al Qur’an dengan baik & benar serta Kajian Tafsir Majelis Talim Griya Al Qur’an diadakan di Rumah Pintar pukul 20.00 WIB.

Pengajian Dibawah bimbingan Ustadz. H.Tohirin,Lc,M.Ag. Berikut dokumentasi & rekaman pengajian yang kami rekam untuk memudahkan jamaah mengulang materi tersebut.


Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza

semoga Allah meridhoi kita semua..Aamiin yaa rabbal allamiin.

Penutup Pengajian MTGA , Sabtu 22 Juli 2017

undangan 22 juli 2017

salam kufi-01

Hari Sabtu, Tanggal 22 Juli 2017, Pengajian Baca Al Qur’an dengan baik & benar serta Kajian Tajwid Majelis Talim Griya Al Qur’an diadakan di Rumah Pintar pukul 20.00 WIB.

Pengajian Dibawah bimbingan Ustadz. H.Tohirin,Lc,M.Ag. Berikut dokumentasi & rekaman pengajian yang kami rekam untuk memudahkan jamaah mengulang materi tersebut.

Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza

semoga Allah meridhoi kita semua..Aamiin yaa rabbal allamiin.

Penutup Pengajian MTGA , Sabtu 15 Juli 2017

15-07-2017

salam kufi-01

Hari Sabtu, Tanggal 15 Juli 2017, Pengajian Baca Al Qur’an dengan baik & benar serta Tafsir Majelis Talim Griya Al Qur’an diadakan di Rumah Pintar pukul 20.00 WIB.

Pengajian Dibawah bimbingan Ustadz. H.Tohirin,Lc,M.Ag. Berikut dokumentasi & rekaman pengajian yang kami rekam untuk memudahkan jamaah mengulang materi tersebut.


Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza

semoga Allah meridhoi kita semua..Aamiin yaa rabbal allamiin.

Sakaratul maut sang soleh


Ketika Umar al Faruq menjelang ajal, beliau berkata kepada putranya Abdullah, “Letakkan pipiku di atas tanah”, namun Abdullah enggan untuk melakukan itu. Beliau berkata hingga untuk ketiga kalinya, “Letakkan pipiku di atas tanah, semoga Allah melihatku dalam keadaan demikian, kemudian Dia merahmatiku. “Diriwayatkan, bahwa beliau terus menangis sehingga pasir-pasir menempel di kedua mata beliau seraya mengatakan, “Celakalah Umar, celaka juga ibunya, jika Allah tidak memaafkannya.” 

Ketika Abu Hurairah sakit parah beliau menangis, lalu ditanya, “Apa yang membuat anda menangis? Beliau menjawab, “Saya menangis bukan karena dunia ini, namun saya mena-ngisi perjalanan setelah ini (dunia), bekalku yang sedikit, lalu saya akan menapaki tempat yang menanjak lagi amat luas, sementara saya tidak tahu akan dimasukkan ke neraka atau ke surga.” 

Utsman Radhiallaahu anhu berkata di akhir hayatnya, “Tidak ada ilah selain Engkau, Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang berbuat aniaya. Ya Allah aku mohon pertolongan dalam seluruh urusanku, dan aku memohon kesabaran dalam menghadapi ujian yang menimpaku.” 

Sufyan ats Tsauri berkata, “Tidak ada tempat yang lebih dahsyat bagiku daripada (tempat) terjadinya sakaratul maut, aku sangat takut kalau dia (sakarat) terus menerus menekanku, aku telah meminta keringanan, namun dia tidak menghiraukan, sehingga aku terkena fitnahnya.” Kemudian beliau menangis semalaman hingga menjelang pagi, ketika beliau ditanya, “Apakah tangis tersebut karena dosa? Maka beliau mengambil segenggam tanah dan berkata, “Dosa lebih ringan dari pada ini (tanah, maksudnya adalah maut- pen), aku menangis karena takut terhadap su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk). 

Abu Darda’ ketika menjelang wafat mengatakan, “Apakah seseorang tidak mau beramal untuk mempersiapkan panggung pergulatan ini? Mengapa orang tidak beramal untuk menghadapi waktu ini? Mengapa orang tidak beramal untuk menyongsong hariku ini? Kemudian beliau menangis, maka istri beliau bertanya,”Mengapa engkau menangis, bukankah engkau telah menemani Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ? Beliau menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis sementara aku tidak mengetahui bagaimana dosa-dosa telah menyerangku.” 

Abu Sulaiman ad-Darani, “Aku berkata kepada Ummu Harun seorang wanita yang rajin beribadah, “Apakah anda senang dengan kematian? Maka dia menjawab, “Tidak! Aku bertanya, “Mengapa? Maka dia mejawab, “Demi Allah, andaikan aku berbuat kesalahan kepada makhluk saja, maka aku takut untuk bertemu dengannya, maka bagaimana lagi jika aku bermaksiat kepada Khaliq Yang Maha Agung? 

Atha’ as Sulami ditanya tatkala sakit yang mengantarkan pada ajalnya, “Bagaimanakah keadaan anda? Beliau menjawab,” Kematian berada di leherku, kuburan ada di hadapanku, kiamat adalah akhir perjalananku, jembatan Jahannam adalah jalanku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Kemudian beliau menangis dan terus menangis sehingga pingsan. Ketika sadar kembali beliau mengucapkan, “Ya Allah kasihanilah aku, hilangakanlah kesedihan di dalam kuburku, mudahkan kesulitanku ketika menjelang kematian, rahmatilah kedudukanku di hadapan-Mu wahai Dzat Yang Paling Pengasih di antara para pengasih.” 

ketika Sulaiman at Taimi telah dekat wafatnya, dikatakan kepada beliau, “Kabar gembira buat anda, karena anda adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Allah.” Maka beliau menjawab, “Janganlah kalian mengatakan demikian, sesungguhnya aku tidak mengetahui apa yang tampak di hadapan Allah Azza wa Jalla, karena Dia telah berfirman, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. 39:47) 

Muhammad al Munkadir menangis tatkala menjelang wafatnya, lalu ia ditanya, “Apa yang membuat anda menangis? Beliau menjawab, “Demi Allah aku menangis bukan karena dosa yang aku ketahui telah aku lakukan, namun aku takut jika telah melakukan sesuatu yang aku anggap sepele namun dihadapan Allah ternyata itu adalah sesuatu yang amat besar.”

Sinar Al Qur’an

Rumah tampak terang benderang menurut pandangan Allah apabila di dalamnya selalu ada ayat-ayat suci Al-Qur’an yang di baca oleh penghuninya. Cahaya ini bukan berasal dari lampu penerangan rumah, tetapi cahaya ini berasal dari setiap huruf, kata, kalimat, dan ayat-ayat yang di baca. Lalu di tela’ah menjadi sinar yang menerangi hati, menjadi cahaya Ilahi, menerawang dalam setiap relung kehidupan.

Ia hadir pada hati yang sempit lalu menjadi lega, hati yang marah menjadi pemaaf, jiwa yang kikir menjadi dermawan, dan sebagainya. Al-Qur’an memiliki keutamaan yang luar biasa, dan karenanya layak jika Al-Qur’an dijadikan sebagai mukjizat terbesar yang diberikan-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Abu Hurairah r.a. menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Keutamaan Al-Qur’an dibandingkan dengan segala perkataan laksana keutamaan Allah Yang Maha Pengasih dibandingkan dengan seluruh makhluk-Nya.”

Dalam sebuah keluarga, seorang ayah berkewajiban mengajarkan Al-Qur’an kepada putra-putrinya. Jika ia tidak mampu, hendaknya dititipkan kepada orang lain untuk diajarkan Al-Qur’an. Allah Subhanahu wata A’la. menaruh kepedulian yang sangat besar dengan mengampuni dosanya serta memberikan derajat yang mulia kepada para pengajar Al-Qur’an. Anas r.a. menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Barang siapa mengajari anaknya membaca Al-Qur’an dengan melihat (pada kitab Al-Qur’an), maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Dan barang siapa mengajarinya membaca Al-Qur’an dengan hafalan, lalu setiap anak membaca satu ayat, maka Allah mengangkat satu derajat untuk ayahnya sehingga pada akhir Al-Qur’an yang dibaca.”

Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

قال قتادة  رحمه الله: كان مُطَرف، رحمه الله، إذا قرأ هذه الآية يقول: هذه آية القراء.

“Qatadah (wafat: 118 H) rahimahullah berkata, “Mutharrif bin Abdullah (Tabi’in, wafat 95H) jika membaca ayat ini beliau berkata: “Ini adalah ayat orang-orang yang suka membaca Al Quran” (Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim).

Asy Syaukani (w: 1281H) rahimahullah berkata,

أي: يستمرّون على تلاوته ، ويداومونها .

“Maksudnya adalah terus menerus membacanya dan menjadi kebiasaannya”(Lihat kitab Tafsir Fath Al Qadir).



Penutup Tadarus Khatam Al Qur’an, Selasa 13 Juni 2014

Hari Selasa, tgl 13 Juni 2017, Tadarus Khatam Al Qur’an Majelis Talim Griya Al Qur’an diadakan di Rumah Pintar pukul 21.00 WIB. Walaupun kondisi cuaca gerimis dan kondisi listrik yang mengalami gangguan (sempat mati lampu) namun alhamdulillah berkat izin Allah Subhanahu Wa ta A’la tadarus khatam Al Qur’an dapat berjalan lancar ditengah kondisi lingkungan yg gelap dikarenakan arus listrik yang tdk stabil, namun subhanallah, karena niat jamaah yang kuat untuk mengikuti Tadarus Khatam Al Quran ini sangat kuat, Maka Allah Mudahkan.

Program Special Ramadhan Majelis ini diakhiri dengan makan berjamaah (makan dengan cara sunnah) dengan menu nasi kebuli yang berasal dari kotak infaq majelis.

Syukur Alhammdulillah Program Khatam Al Quran majelis ini sudah yang kedua kalinya diadakan di llingkungan Griya Serpong Asri Khususnya di RT.08 & RT.09, Insha allah tahun depan akan semakin luas cakupan program khatam Al Quran ini  wilayah ke-RTan di GSA RW.08, guna mempererat Ukhuwah Islamiyah di lingkungan kita.

Terakhir Kami pengurus mengucapkan banyak2 terimakasih atas partisipasi warga. & jamaah yg sedari awal hingga akhir dalam mendukung program khatam Al Quran ini, semoga Allah menghitung amal ibadah dengan berlipat-lipat ganda pahala setiap langkah jamaah dalam mensukseskan program khatam Al Quran ini, Aamiin.

Berikut adalah dokumentasi nya :

🌷https://mtgriyaalquran.wordpress.com🌷
💎🌷 *MENANGISLAH….*
Menangislah..

Sebelum Ramadhan Pergi …..

Kita pernah berjanji mengkhatamkan Qur’an..

Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua beranjak dari juz awalan..
Menangislah..

Sebelum Ramadhan Pergi ……..

Kita pernah berjanji menyempurnakan qiyamullail yang bolong penuh tambalan..

Setelah Ramadhan di akhir hitungan, kita tak jua menyempurnakan bilangan..
Menangislah..

Sebelum Ramadhan Pergi ……….

Kita berdoa sejak Rajab dan Sya’ban agar disampaikan ke Ramadhan..

Setelah Ramadhan di akhir hitungan..

Ternyata masih juga tak bisa menahan dari kesia-siaan..

Ternyata masih juga tak bisa menambah ibadah sunnah..

Bahkan..

Hampir terlewat dari menunaikan yang wajib…
Menangislah wahai saudaraku…….

Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir..

Bahwa ada satu hamba yang bodoh, lalai, sombong lagi terlena..

Sehingga Ramadhan yang mulia pun tersia-sia..
Menangislah..

Dan tuntaskan semuanya malam ini..

atas i’tikaf yang belum juga kita kerjakan..

atas lembaran Qur’an yang belum dikhatamkan..

atas lembaran mata uang yang menunggu disalurkan..

atas sholat sunnah yang menunggu jadi amal tambahan..

Menangislah..

Lebih keras lagi…

Karena Allah tidak menjanjikan apapun untuk Ramadhan tahun depan..

Apakah kita masih disertakan..
اعاده الله علينا و عليكم سنين بعد سنين  مقبولين لا مطرودين مجتمعين لا متفرقين  في خير ولطف وعافية برحمتك يا ارحم الراحمين
❦❖🌷🌻💎🌻🌷❖❦

            *Majelis Talim Griya Al Qur’an*

*ref*