Bagaimana Al Qur’an Memberi Energi Bisnis Agar Terus Tumbuh Melampaui Dunia?

quran-guidance-to-humanity

Selama ini saya salah…
Akhirnya yang saya dapat hanya lelah…
Lelah berpikir…
Lelah berbuat…
Akhirnya jatuh, ambrug!

Untung ada Al-Quran.

Begitulah enaknya jadi umat Islam. Ada sumber energi yang terus terbarukan, engga pernah habis sepanjang masa.
Al-Quran terus menerus memberikan energi kepada pembacanya agar terus mampu berjalan sampai ke finish.
Di manakah garis finish dari sebuah bisnis? Sayangnya.. tidak ada garis finish dalam berbisnis kecuali mati dalam keadaan baik.

Belum jauh kita melangkah.
Yuk serap energi ilahi dari Al-Quran.

BAGAIMANA AL-QURAN MEMBERI ENERGI BISNIS AGAR TERUS TUMBUH MELAMPAUI DUNIA.

Al-Quran menceritakan tentang dua batas energi yang berbeda. Yang satu hanya sebatas sukses dunia saja. Dan satu lagi melampaui sukses dunia, yaitu akhirat. Masing-masing memperoleh hasil usaha sesuai dengan energinya masing-masing.

فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. [Al-Baqarah:200]

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. [Al-Baqarah:201]

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. [Al-Baqarah:202]

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, Di manakah batas energi yg kita miliki?

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran:14]

Energi duniawi, yaitu berupaya mendapatkan kesenangan hidup adalah energi yang dimiliki kebanyakan orang.

Dan karena itu, mereka saling menzalimi di antara mereka dengan melakukan praktek riba sedemikian rupa.

Sampai-sampai Nabi meramalkan bahwa semua umat akhir zaman akan memakan riba atau paling tidak terkena debu-debu riba.

Praktek riba membuat kita terpedaya mengejar ilusi. Kita mengira bahwa uang kertas itulah harta yang bernilai padahal Al-Quran mengatakan bahwa harta sesungguhnya adalah terdiri dari jenis emas dan perak.

Al-Quran memberikan energi sukses yang melampau dunia.

Perhatikan ayat-ayat berikutnya.

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [Ali Imran:15]

Ayat berikutnya memberikan contoh perilaku yang digerakkan oleh energi ilahi, yaitu:

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” [Ali Imran:16]

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.  [Ali Imran:17]

Pertama, orang-orang yang menyatakan sikap iman. Sikap ini penting untuk merespon semua teori yang diajukan oleh Al-Quran, bahwa teori-teori itu harus dipraktekkan, termasuk teori-teori tentang bahaya riba dan solusinya. Allah murka kepada orang yang hanya berteori tapi tidak praktek.

   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَكَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. [Ash-Shaff:2-3]

Kedua, memohon ampun dari dosa dan memohon dipelihara dari azab neraka. Hal ini mencakup dua masa, yaitu masa lalu dan masa depan. Bagi kualitas perilaku ini tidak ada lagi trauma-trauma masa lalu ataupun ketakutan-ketakutan akan masa depan yang menghambat langkah-langkah perbaikan. Mereka penuh optimis akan karunia Allah.

Ketiga, orang-orang yang sabar, baik sabar menghadapi kegagalan maupun sabar menghadapi kesuksesan. Sabar ketika kekurangan uang itu sudah biasa, banyak yang berhasil. Sedangkan sabar ketika sedang memiliki banyak uang, di sini banyak yang gagal. Uang mampu merubah gaya hidup seseorang. Mereka yang tidak sabar mengelola uangnya akan terjebak kedalam gaya hidup yang menjerumuskan bisnisnya itu sendiri. Begitu juga sabar dalam menjalani proses bisnis. Mereka yang tidak sabar biasanya juga terjerat oeh praktek riba.

Keempat, orang-orang yang benar. Benar dalam berkata, berjanji, mempromosikan produk,, membuat laporan keuangan. Benar dalam menjalankan bisnisnya. Tidak menipu ataupun berbuat curang demi memperoleh keuntungan bisnis. Ini soal integritas, yaitu ketika kita melaksanakan apa yang kita katakan, dan mengatakan apa yang kita lakukan.

Kelima, orang-orang yang tetap taat dalam kondisi apapun. Dan ini soal loyalitas, yaitu ketika kita melakukan integritas itu secara terus-menerus berkesinambungan.

Keenam, berinfaq. Tidak menimbun harta, tetapi membuat harta beredar produktif. Ini penting dalam menopang kelancaran roda perekonomian.

Ketujuh, beristighfar di waktu sahur. Waspada di saat orang lalai. Tentang istighfar sudah kita bahas sebagai pintu pembuka rezeki pada bagian yang lalu.

Mari terus menyerap energi ilahi dari Al-Quran.
Jangan malah bisnis ini melalaikan kita dari Al-Quran.
Ingat teori Tijarotan lan tabur?
Ingat teori bisnis yang tidak akan merugi?
Bacalah Al-Quran.
Insha Allah Aamiin.  

*(Dikutip Dari Hikmah Bersama)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s