Tiada Henti Belajar Membaca Al-Qur’an

al-quran1

Tak boleh ada kata akhir dalam belajar. Tak boleh ada kata puas dalam menuntut ilmu. Ia harus terus bergulir semenjak kita di timangan, hingga nanti terbaring di kuburan. Apalagi belajar Al-Quran, dengan segala sisi dan tahapannya.

Dulu sepanjang empat tahun kuliah, selama delapan kali berganti dosen Al-Qur’an, tak pernah ada yang menyalahkan Tajwid atau Makhorijul Khuruf saya saat tasmi’ hafalan. Mulus tanpa hambatan.

Lalu saat ikut Halaqoh Tahfidz di Masjid Nabawi, sang Musyrif mengatakan bacaan saya sudah bagus. Bahkan kemudian saya diminta menjadi asisten beliau untuk menyimak hafalan murid yang lain.

Pun begitu saat tasmi’ untuk mengambil sanad dari seorang Syeikh senior asal Bukhara, yang punya halaqoh di samping Raudhah. Beliau hanya mengingatkan untuk lebih disiplin dalam Mad Wajib Muttashil. Tak ada cara baca yang disalahkan.

Dalam kitab Hilyah Tholibil ‘Ilmi, Syekh Bakr Abu Zaid mengingatkan, “Dikatakan bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka dia akan menjadi tinggi hati (takabbur)”.

Beliau melanjutkan, “Kemudian, apabila dia telah menapaki jengkal yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu’). Dan bilamana dia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa”.

Bahkan saat ujian Al-Quran untuk masuk S3 (hafalan 10 juz), sang penguji sampai bertanya, “Masya Alloh, apakah Antum lulusan fakultas Al-Qur’an?”. Ketika itu saya cuma diminta membaca satu halaman, lalu ujian pun dicukupkan dan dipersilakan keluar ruangan.

Hingga ketika kemarin pagi di Masjid Nabawi, seusai ikut kajian kitab Ma’arijul Qabul, saya tertarik bergabung duduk di sebuah halaqoh Al-Quran. Sambil menunggu istri selesai Tahfidz, saya pikir tak ada salahnya kembali menguji bacaan.

Tak dinyana, baru mulai membaca awal Ta’awudz saja, saya langsung disalahkan. Bahkan baru membaca setengah Al-Fatihah, saya sudah melakukan delapan belas kesalahan. Terutama dalam Makhorijul Khuruf.

Beberapa hal yang selama ini saya anggap benar ternyata salah. Seolah saya seperti anak TK yang baru belajar membaca. Sampai-sampai sang Syekh menyuruh saya untuk belajar lagi huruf Hijaiyah dari awal.

Beliau adalah Syekh Abdul Aziz Abu ‘Ishom, seorang pengajar Al-Qur’an spesialis Makhorijul Khuruf di Masjid Nabawi. Pria keturunan Urdu ini, ternyata adalah pengarang kitab At-Thoriq As-Shohih Li Makhorijil Khuruf.

Abu ‘Ishom mengingatkan, Al-Qur’an itu harus dibaca sebagaimana dulu diturunkan. Termasuk dalam pengucapan huruf-hurufnya. Kata beliau, tidak sedikit dari kalangan Ulama, Imam, Huffadz, bahkan pemegang sanad Al-Qur’an, yang bacaannya masih perlu perbaikan.

Beliau memang terkesan agak galak. Semua murid yang kurang pas dalam membaca akan “disemprot” habis-habisan. Sampai ada beberapa murid yang mundur teratur. Namun karena merasa banyak istifadah, saya telah bertekad untuk rutin hadir di halaqohnya tiap pagi.

Dalam kitab Hilyah Tholibil ‘Ilmi, Syekh Bakr Abu Zaid mengingatkan, “Dikatakan bahwa sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal. Jika seseorang telah menapaki jengkal yang pertama, maka dia akan menjadi tinggi hati (takabbur)”.

Beliau melanjutkan, “Kemudian, apabila dia telah menapaki jengkal yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu’). Dan bilamana dia telah menapaki jengkal yang ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa”.

(Manhajuna/IAN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s