Sahabat Rasulullah Gemar Membaca Alquran

Membaca Alquran dalam kendaraan umum (ilustrasi)

“Peliharalah Al-Qur’an. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, sesungguhnya hafalan Al Quran itu lebih cepat lepasnya dari pada lepasnya onta dari ikatannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Di antara kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah menyuruh sahabat-sahabatnya membaca Al Qur’an dengan baik. Biasanya beliau membacakan kepada mereka atau menyuruh mereka membacakannya di depan beliau. Berkata Ibnu Mas’ud, “Aku mendengar langsung dari mulut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tujuh puluh surat Al Qur’an.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw pernah berkata kepada Ibnu Mas’ud, di mana saat itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang di atas mimbar, “Bacakanlah kepadaku Al Qur’an!” Ibnu Mas’ud berkata, “Pantaskah aku membacakan untukmu, sedangkan Al Qur’an diturunkan kepadamu?!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Sungguh aku senang mendengarnya dari orang lain.” Lalu Ibnu Mas’ud pun membacakan surat An Nisaa hingga ayat yang berbunyi: “Maka Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An Nisaa : 41). Beliau bersabda, “Cukup… Cukup!.” Ketika aku menoleh, kata Ibnu Mas’ud, “Aku melihat air mata beliau bercucuran.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam benar-benar menekankan kaum muslimin untuk memahami Al Qur’an. Beliau mengutamakan kedudukan sebagian mereka atas sebagian yang lain dari kemampuannya menguasai Al Qur’an. Beliau bersabda: “Yang berhak menjadi Imam atas kaumnya adalah orang yang paling (mahir) membaca Al Qur’an di antara mereka”.
Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memberangkatkan suatu pasukan untuk menyerang musuh. Beliau meminta mereka untuk membekali diri dengan bacaan Al Qur’an. Beliau pun meminta masing-masing membacakan apa yang dihafalkannya. Tiba-tiba beliau menghampiri seorang di antara mereka yang paling muda usianya seraya berkata, ‘Apa saja yang kalu hafal, hai Fulan?!’ ‘Saya hafal surat ini, surat itu, dan surat Al Baqarah’ jawabnya. ‘Kamu hafal surat Al Baqarah?! Rasulullah bertanya lagi. Anak muda itu berkata, ‘Benar’. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda: “Berangkatlah dan kamu yang menjadi pemimpin mereka.”
Pantaslah anak muda itu mendapatkan penghargaan diangkat sebagai komandan pasukan. Sebab dengan kemampuannya menghafalkan surat Al Baqarah, surat terpanjang dalam Al Qur’an (yakni 286 ayat dan lebih dari 2 juz) ia patut mendapatkan acungan jempol. Lebih dari itu, surat Al Baqarah rupanya punya kedudukan tersendiri dalam pandangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bacalah olehmu Al Qur’an, karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat pada pembacanya dengan membawa syafaat. Bacalah Az Zahrawain, yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena kedua-duanya datang pada hari kiamat seolah-olah menjadi dua tumpuk awan yang menaungi pembacanya atau menjadi dua burung yang sedang terbang lalu datang hendak membela pembacanya. Bacalah surat Al Baqarah karena mengambilnya adalah berkah, sedang meninggalkannya adalah suatu penyesalan dan tidak dapat dilakukan oleh orang yang kosong dari ibadah. Muawiyah bin Salam mengatakan; ‘Menurut kabar yang sampai kepadaku, orang yang kosong dari amal ibadah adalah tukang-tukang sihir’.” (HR. Muslim)
Orang yang membaca Al Qur’an hendaknya dalam keadaan khusyu’, merenungkan makna-maknanya dan penuh ketundukan, karena memang demikian cara yang diperintahkan. Ia dianjurkan menangis atau pura-pura menangis kalau tidak bisa menangis. Disunnahkan pula meneladani cara-cara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam membaca Al Qur’an. Beliau senantiasa membaca Al Qur’an dengan tartil, tidak terburu-buru, bahkan sebaliknya dengan memperjelas huruf per huruf dan menghentikan bacaan se-ayat demi se-ayat. Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah dalam rangka melaksanakan firman Allah swt: “Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al Muzammil: 4)
Beliau selalu membaca Al Qur’an, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, dalam keadaan berwudhu maupun berhadats. Manakala menemukan ayat-ayat doa, beliau berdoa, menemukan ayat-ayat istighfar beliau beristighfar, menemukan ayat-ayat sajdah beliau pun bersujud, atau ketika membaca ayat-ayat yang menyebutkan rahmat Allah, beliau serta merta memohonnya.
Membaca Al Qur’an seyogyanya dikerjakan pada siang maupun malam hari, saat bepergian maupun saat di rumah. Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berpesan kepada Abdullah bin ‘Amr hendaknya dia mengkhatamkan Al Qur’an seminggu sekali. Demikian waktu yang digunakan oleh sejumlah sahabat Rasulullah saw, seperti Utsman, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, atau Ubay bin Ka’ab dalam mengkhatamkan Al Qur’an.
Sahabat Utsman ra biasanya memulai bacaannya pada malam Jumat dari Al Baqarah hingga Al Maidah, malam Sabtu dari Al An’am hingga Hud, malam Ahad dari Yusuf hingga Maryam, malam Senin dari Thaa Haa sampai Al Qashash, malam Selasa dari Al ‘Ankabut sampai Shaad, malam Rabu dari Az Zumar sampai Ar Rahman, dan malam Kamis ia sempurnakan hingga khatam. Wallahu a’lam bissawab.
Sumber: Taqarrub Ilallah

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s