Kisah Sifat Penyayang Rasulullah teladan kita yang mulia

Al-Mawlid 28

Kisah Sifat Penyayang Rasulullah

Sebuah cerita islami yang berisi tentang Kisah Sifat Penyayang Rasulullah. Suatu ketika, Rasulullah berdakwah di Thaif, kota yang terdekat dengan Makkah. Dakwah yang dilakukan oleh beliau tidak didengar oleh orang-orang Thaif, namun mereka juga tidak membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dengan tenang dan aman. Mereka melempari beliau dengan batu, kayu, kotoran dan apa saja yang ada di sekitar mereka. Pengusiran dan penghinaan ini begitu dahsyat bahkan membuat tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdarah-darah. Dalam perjalanan pulang tersebut beliau menjumpai suatu tempat yang dirasa aman untuk beristirahat dan tidak terganggu lagi dengan orang-orang jahat dari Thaif tersebut. Disana beliau berdo’a kepada Allah, dimana do’a beliau sangat menyayatkan hati.

Allah mendengar do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut lantas mengutus malaikat Jibril untuk menemui beliau. Setiba di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, malaikat Jibril memberi salam dan berkata:

Allah mengetahui apa yang terjadi kepada engkau dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintah engkau, ya Rasulullah.”

Jibril lantas memperlihatkan malaikat penjaga gunung tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat itu pun berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Wahai Rasulullah, kami siap menjalankan perintah baginda. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan seluruh gunung di sekitar kota tersebut berbenturan satu sama lain sehingga seluruh penduduk diantaranya akan mati tertindih. Atau anda menginginkan hukuman yang lain, apa saja yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Kisah Sifat Penyayang Rasulullah – Tawaran malaikat tersebut memang menggiurkan. Orang biasa pasti sudah meminta itu dilaksanakan. Bukankah itu kesempatan untuk membalas sakit hati? Namun tidak dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah orang yang pengasih lagi penyayang. Dengan sikap welas asih, beliau menolak tawaran malaikat tersebut. Beliau berkata kepada para malaikat tersebut.

Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepadaNya.”

Maka pada hari itu Thaif tidak jadi dihancurkan. Dan atas ijin Allah, penduduk Thaif menjadi pemeluk Agama Islam bahkan sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Kejadian pada Fathul Makkah

Saat Makkah berhasil ditaklukkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhadapan dengan orang-orang yang pernah menyiksa dan hendak membunuhnya dahulu. Beliau berkata:

“Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadap kalian?

“Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia,” jawab mereka sambil menangis.

Maka Rasulullah bersabda, “Pergilah Kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i

Masih bercerita mengenai Fathul Makkah. Pada hari itu pembesar Quraisy benar-benar dibuat malu. Mereka takut bukan main jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas apa yang telah mereka perbuat kepada beliau di masa lalu. Seperti halnya yang ada dalam diri Abu Sufyan bin Harits. Meskipun dia adalah sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia juga menentang beliau bahkan menghinakan beliau. Pada saat itu Abu Sufyan ketakutan sehingga membawa seluruh anak-anaknya lari, namun bertemu dengan ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau (Ali) bertanya kepada Abu Sufyan, “Wahai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah engkau?”

Dengan nada ketakutan Abu Sufyan menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”

Lantas Ali bertanya lagi, “Mengapa kamu lakukan itu?” Abu Sufyan menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”

Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, yaitu demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa) (QS. Yusuf: 91)

Lalu Abu Sufyan pun mengurungkan niatnya pergi dan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berdiri mendekat kepada beliau, mengucapkan salam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, …Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” Sama persis yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menengadahkan pandangan sementara air mata beliau bercucuran menbasahi pipi dan jenggot beliau. Beliau menjawab dengan menyitir firman Allah yang berbunyi:

Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni dan Dia adalah Maha Penyayangan diantara para penyayang,” (QS. Yusuf: 92)

Kisah Rasulullah mengasihi orang kafir

Dalam sebuah hadits, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata kepadanya, “bacakan al-Quran kepadaku.” Ibnu Mas’ud tentu saja kebingungan dan berkata, “bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?” “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga sampai firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisâ: 41)

Saat bacaan tiba pada ayat tersebut, beliau bersabda, “Cukup.” Lantas Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau dan terlihat bahwa beliau sedang menangis. Kisah ini merupakan pelajaran berharga bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai seluruh umat manusia. Beliau menginginkan semua orang-orang kafir untuk beriman karena balasan kekafiran adalah neraka Jahannam yang menyala-nyala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melihat neraka, oleh karena itu beliau tidak ingin umat manusia masuk ke dalamnya. Menyadari hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalirkan air mata dengan deras. Diriwayatkan oleh Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat malam sambil menangis membaca satu ayat yang diulang-ulang, yakni “Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba engkau juga” (QS. Al-Maidah:118).

Begitu besar kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umat manusia. Sudah sepantasnya kita membalas kasih sayang beliau dengan mengikuti syariat yang beliau bawa.

Semoga Kisah Sifat Penyayang Rasulullah dapat kita ambil hikmahnya dengan baik, dapat kita teladani sifat penyayang beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s